EVENT

Soal Pengeroyokan Terhadap Pemred Kaili Post, Aji Palu Nilai Terkait Pemberitaan

Sintuwuraya.com, Palu – Catatan peristiwa kekerarasan terhadap Jurnalis makin panjang saja, sejumlah korban terus bertambah seiring dengan dinamika kebebasan pers. Padahal, anda saja semua pihak bisa menahan diri, seraya membuka-buka seluk beluk tentang kegiatan Jurnalistik, boleh jadi mereka yang merasa tidak puas dengan pemberitaan, lebih memilih jalur hukum daripada bermain hakim sendiri. Apalagi mekanisme pers dalam bentuk hak jawab dan hak koreksi juga lumayan terang sebagai solusi penyelesaian masalah.

Selasa, 23 Mei 2017 yang lalu, Pemimpin Redaksi Kaili Post, Andono Wibisono, mengalami kekerasan serupa. Dalam rekaman kamera CCTV yang tersiar ke publik beberapa hari setelah kejadian, nampak dengan jelas, Andono Wibisono dikeroyok sejumlah orang di sebuah warung kopi di Jl. Mesjid Raya Kota Palu. Diketahui, pengeroyokan terhadap Pemred Kaili Post itu berlangsung selama kurang lebih 01 menit, 47 detik.

Begitulah nasib Jurnalis belakangan ini terus menjadi sasaran kekerasan. Berdasarkan catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, kasus kekerasan terhadap Jurnalis di Sulawesi Tengah pada tahun 2016 terdapat 5 kasus, sementara untuk Tahun 2017, Andono Jurnalis pertama yang menjadi korban. “aksi pengeroyokan itu diduga merupakan imbas dari ketidakpuasan atas pemberitaan yang dimuat di media yang dipimpin korban”, kata Ketua Aji Palu, Muhammad Iqbal Rasyid melalui press release-nya, merespon kasus kekerasan di penghujung bulan Mei tersebut.

Lebih jauh Iqbal menguraikan, sangat disayangkan terjadinya kekerasan tersebut, bukan apa-apa, awal bulan April 2017 lalu, Indonesia baru saja menjadi tuan rumah World Press Freedom Day (WPFD) yang dilaksanakan oleh Unesco dan dihadiri oleh ribuan Jurnalis dari berbagai negara. “Kita menyayangkan kasus kemarin, karena telah mencederai penghargaan Unesco terhadap Indonesia sebagai tuan rumah WPFD baru-baru ini”, urai Iqbal.

Masih menurut Iqbal, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu menduga keras, kasus pengeroyokan terhadap Pemred Kaili Post, selain merupakan tindakan kriminal, juga termasuk praktek menghalang-halangi kerja Jurnalistik yang dilindungi Undang-Undang Pers No.40 Tahun 1999. Karena itu, katanya atas nama Aji Palu, ia mendesak Kepolisian setempat untuk segera menangkap semua pelaku pengeroyokan, memprosesnya secara serius dan tidak main-main. (Darwis Waru)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close