TRAVEL & CULTURE

Schumacher dan Inuyu yang Menghidupkan Kota

“Ide ini sederhana, tidak memerlukan biaya, hanya perlu ada dorongan kebijakan pemerintah saja. Tapi yang sederhana itu sampai sekarang belum kita lihat sampai saat ini”.

Kalimat ini diungkapkan Abdul Malik, akademisi Universitas Sintuwu Maroso mengenai gagasan dia menjadikan makanan khas orang Poso yakni Inuyu, beras yang dipanggang dalam bambu berlapis daun pisang itu kini makin tersingkir itu hadir kembali diwarung-warung makan hingga warung kopi sebagai salah satu sajian khas. Kami memperbincangkan Inuyu disebuah warung kopi tempat dimana biasanya ide mengalir deras.

Tapi bagi Malik, ini bukan hanya tentang bagaimana gerakan pelestarian makanan khas dilakukan, lebih dari itu, Inuyu bisa menjadi sumber tenaga yang terus mengepulkan dapur banyak orang terutama orang-orang kecil. Coba bayangkan, bila ada kebijakan agar setiap ada kegiatan pemda, warung kopi, warung-warung makan di Poso dihimbau kalau tidak ingin mewajibkan untuk menyediakan nasi bambu sebagai salah satu menu yang dihidangkan, tentu akan ada usaha-usaha kecil yang hidup, akan ada penjual bambu dan dan daun pisang yang rutin setiap hari dan beberapa dampak turunannya yang bisa menggerakkan usaha kecil.
Bila prinsip membangun dimulai dari hal yang paling kecil dan paling mungkin, seharusnya membumikan Inuyu atau khas Poso lainnya bukanlah perkara sulit. Namun kadang, pembangunan itu kerap diartikan sebagai betonisasi saja yang merujuk pada pembangunan fisik dengan anggaran miliaran bahkan triliunan. Belajar dari pengalaman masyarakat DKI yang banyak merasa betonisasi ala Basuki ternyata lebih banyak dinikmati golongan menengah atas, sementara dibawah yang terjadi adalah penyingkiran masyarakat dari ruang hidupnya, dari lingkungannya yang punya sejarah. Merekakemudian menunjukkan sikapnya di TPS. Namun orang masih bisa berdebat mengenai ini. Apakah di kita juga terjadi hal seperti ini? mungkin belum, Poso masihlah sebuah kabupaten yang berjuang melepaskan image kekerasan sektarian yang pernah melandanya 18 tahun silam. Namun melihat prioritas pembiayaan daerah pada  pembangunan infrastruktur fisik yang begitu besar ditengah tingkat pengangguran yang juga masih tinggi dan angkatan kerja yang besar tentu ide-ide kecil, sederhana, minim biaya namun punya dampak berantai ekonomi kuat, bukan hanya akan dipertimbangkan saja, tapi harus dilaksanakan.

Ekonom dan filsuf Jerman, Ernst Friedrich Schumacher dalam karya yang menjadi magnum opusnya, Small Is Beautiful, mengkritisi ilmu ekonomi saat ini yang menurutnya sudah menjauhkan tujuan sesungguhnya dari kehadiran ilmu yang oleh Aristoteles disebut sebagai cabang dari moralitas sosial itu. Schumacher kemudian menawarkan konsep Ekolokalisme untuk mengkritisi hilangnya kedaulatan lokal dan menggalang kepedulian pada proyek pengembangan ekonomi lokal berskala kecil. Pandangan ini merupakan salah satu kritik Schumacher terhadap praktek korporasi yang sering mengesampingkan tumbuhnya ekonomi rakyat yang  tidak punya modal besar.

Bila melihat hari ini fokus pembangunan diarahkan pada infrastruktur-infrastruktur yang lebih mengacu pada perubahan image kota, lalu muncul pertanyaan, apakah kadar keseriusan melebarkan jalan itu sama besarnya dengan menumbuhkan ekonomi kreatif rakyat kecil. Jika pengalaman masa lalu dijadikan bahan,maka jawabannya bisa dilihat dari jumlah pengangguran yang mencapai lebih dari 7 persen pada tahun lalu. Belum termasuk semakin bertumpuknya angkatan kerja terdidik dari lulusan-lulusan 3 perguruan tinggi yang ada di Poso saat ini. Sementara lapangan kerja yang terbuka tidak sebanding dengan jumlah wisudawan setiap tahunnya.
Mengingat pilkada masih lama, masih ada harapan untuk mewujudkan Sejahtera yang sudah dijanjikan 1,4 tahun lampau. Setidaknya dengan langkah kecil yang sederhana yang tidak membutuhkan biaya lobby ke pusat untuk mendapatkan kucuran miliaran rupiah.

Refleksi yang disampaikan Malik tentang membumikan Inuyu sekaligus menjadikannya sebagai pemicu bangkitnya ekonomi rakyat lewat usaha kecil juga merupakan kritik yang lebih besar pada rezim Jokowi dan penguasa dibawahnya yang menurut Schumacher terlalu memuja ilmu ekonomi modern yang sesungguhnya telah mengabaikan kenyataan bahwa manusia juga bergantung pada alam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close