CENTRAL CELEBES

Inilah Rangkaian Kegiatan Festival Hasil Bumi di Poso

Sintuwuraya.com, Tentena – Kabar baik dari desa-desa di Poso untuk perdamaian dan keadilan. Ada banyak kabar baik dari Poso, Sulawesi Tengah, yang bukan tentang konflik. Demikianlah pemikiran Lian Gogali, pendiri yang juga menjabat sebagai ketua Institut Mosintuwu Poso. 
 
Salah satunya, menurut dia adalah semangat masyarakat desa untuk membangun desa dengan mengelola potensi sumber daya alamnya. Semangat untuk desa membangun paska konflik ini, menjadi peluang dan kesempatan dalam masyarakat dari berbagai latar belakang, agama dan suku, untuk saling percaya dan mau bekerjasama. 
 
Peserta Festival Hasil Bumi Tahun 2016. (foto: dokumentasi Institut Mosintuwu)

Hal itu menjadi salah satu alasan, mengapa Festival Hasil Bumi diadakan di kabupaten Poso untuk kedua kalinya, yakni tanggal 18 – 19 September 2017 mendatang.

 
Festival Hasil Bumi tahun ini mengusung tema kembali ke alam, merajut kedaulatan desa. Tema itu diambil karena bercermin dari proses pengorganisiran Institut Mosintuwu di desa.
 
“Dalam proses bekerjasama dengan sekolah perempuan di desa, kami menemukan bersama mimpi tentang desa yang harusnya dapat menjadi pusat peradaban, atau desa yang bisa memberikan landasan bagi kehidupan ekonomi, sosial, dan kebudayaan dalam masyarakat,” ujar Lian. 
 
Hal itu, menurutnya diyakini bersama dapat dimulai dengan menggali potensi di dalam desa. Proses penggalian potensi alam dan sumber daya manusia itulah, kemudian melahirkan penciptaan dan inovasi produk di dalam desa. 
 
“Saat ini terdapat sepuluh desa di kabupaten Poso yang sudah menemukan inovasi produk yang bersumber dari potensi sumber daya alamnya. Salah satunya kopi di desa Bancea, dan minyak kelapa murni yang diproduksi ibu-ibu di Desa Kilo,” jelas Lian.
 
Menurutnya, jika kita kembali ke desa, mengelola potensi sumber daya alam yang ada dengan menggunakan kekuatan masyarakat, maka desa menjadi kekuatan untuk maju dan berkembang bagi kesejahteraan masyarakat, dan dalam konteks masyarakat pasca konflik, menjadi sebuah ruang yang memastikan terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kabupaten Poso.
 
Masih menurut Lian, meskipun desa memiliki potensi ekonomi dan kekuatan sosial masyarakat, produksi massal makanan instan telah menyingkirkan pangan lokal di desa, bahkan menggusur tanah, merusak air, dan mengancam ekosistem desa. 
 
“Karena itu dibutuhkan ruang yang dengan sengaja dibuat dan dikelola untuk mengingatkan, untuk berjumpa membincangkan situasi desa, sambil belajar dan berbagi pengetahuan dalam pengelolaan pangan dari kekayaan desa untuk saling menginspirasi,” tutur Lian.
 
Selain itu tambahnya, “juga sebuah ruang yang memperlihatkan kekuatan perempuan dalam desa untuk diakui dan menjadi salah satu penentu dalam pengelolaan desa,  sekaligus menampakkan persoalan-persoalan pengelolaan pangan lokal di desa. Festival Hasil Bumi adalah ruang untuk itu,” tegas Lian.
 
Direncanakan sekitar 50 desa dan kelurahan di kabupaten Poso akan mengikuti Festival Hasil Bumi yang diadakan di Tentena, pada minggu ketiga September mendatang. Mereka berasal dari seluruh kecamatan di kabupaten Poso, termasuk Poso Pesisir bersaudara, Lage dan Poso Kota bersaudara yang mayoritas beragama Islam dan juga terdapat pemeluk agama Hindu. 
 
Sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan, petani, dan pedagang. Rencana juga akan hadir masyarakat desa dari wilayah Pamona bersaudara serta Lore Selatan, dan Kabupaten Morowali, yang mayoritas beragama Kristen, dan bermata pencaharian petani dan nelayan danau. 
 
Para petani dan nelayan yang mayoritas perempuan itu, nantinya akan membawa beragam hasil bumi untuk dipamerkan juga dijual, sambil mengikuti serangkaian kegiatan yang merayakan kebaikan alam dan pangan lokal, sebagai modal untuk membangun perdamaian dan keadilan.
 
“Berdasarkan rencana juga akan hadir perwakilan desa dari Sulawesi Selatan yang diorganisir oleh kelompok Perempuan Kepala Rumah Tangga, PEKKA,” kata Cici, koordinator program Festival Hasil Bumi.
 
Cici menjelaskan, dalam kegiatan-kegiatan di Festival Hasil Bumi, akan ada parade hasil bumi, yakni berbagi bibit antar desa, warung desa, workshop kuliner asli dari suku Bada, Mori, Pamona, dan Napu. 
 
Tak hanya itu, ada juga pojok resep yang menuliskan resep-resep asli Poso, lomba memasak, dan kegiatan makan bersama atau Molimbu. Kegiatan lainnya meliputi kegiatan konser musik yang menghadirkan vokalis Navicula, Robi Navicula. 
 
Selain itu, ada lomlmba fotografi hasil bumi, lomba menulis cerita hasil bumi, kegiatan bertemu pengrajin bambu, bingka lora dan pengrajin kain dari kulit kayu. Kegiatan workshop tentang desa, dan akan ada pojok permainan anak-anak desa.
 
Seluruh kegiatan di Festival Hasil Bumi, menurut Cici, menggambarkan semangat untuk merayakan kebaikan alam dan pangan lokal desa. “ Karena itu kami berharap seluruh masyarakat dapat mengikuti atau berkunjung ke Festival Hasil Bumi, untuk mendukung desa-desa aktif membangun perdamaian dan keadilan di Poso,” harap Cici. (Mitha)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close