CENTRAL CELEBES

Makan Bersama dan Parade Kekayaan Alam Poso di Festival Hasil Bumi

Sintuwuraya.com, Tentena – “Kami ingin mulai membicarakan perdamaian dan keadilan di Poso dari makanan, cara makan dan kekayaan alam di desa,” hal itu disampaikan Lian Gogali, ketua Institut Mosintuwu melalui press release Festival Hasil Bumi. 
 
Menurutnya, kabupaten Poso memiliki tradisi makan bersama yang bisa menjadi simbol keadilan, kesetaraan dan perdamaian. “Namanya Molimbu, acara makan bersama seluruh masyarakat desa, dengan membawa penganan atau makanan hasil olahan sendiri dari rumah masing-masing. Makanan yang dibawa dari rumah masing-masing ini, akan dikumpulkan di balai desa dan dimakan bersama-sama. Semua orang bisa saling membagikan makanan atau mencicipi makanan dari yang lain. Tidak ada makanan yang lebih baik atau lebih mahal, semuanya disajikan bersama-sama sebagai ungkapan syukur atas  kebaikan alam,” tulis Lian dalam penjelasannya.
 
Lebih lanjut, Lian mengutarakan bahwa membawa makanan yang diolah dari rumah dan saling berbagi kepada orang lain, adalah sebuah gerakan berbagi yang ada sejak leluhur dulu dengan tidak mempedulikan kedudukan sosial, ekonomi, atau latarbelakang agama yang berbeda.
 
“Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, Islam atau Kristen atau Hindu, atau mungkin belum beragama. Yang hadir adalah syukur pada alam yang memberikan kehidupan melalui makanan, dan rasa syukur itu diekspresikan dengan saling berbagi,” jelasnya.
 
Tradisi Molimbu itu nantinya akan dibawa dalam kegiatan Festival Hasil Bumi, dengan tema kembali ke alam, merajut kedaulatan desa, pada tanggal 18 September 2017.
 
Molimbu di Festival Hasil Bumi akan menggunakan alat makan khas alam yaitu pingku dan suke. Pingku adalah alas makan yang digunakan leluhur dulu sebelum ada piring. Terbuat dari daun Silar yang berdaun lebar. Suke adalah alat minum yang terbuat dari bambu. Oleh panitia festival telah menyediakan 300 pingku dan suke untuk digunakan bersama dalam molimbu. 
 
“Bisa dikatakan molimbu adalah kegiatan yang pertama kali diadakan massal atau bersama-sama antar desa,” tambah Cici, Koordinator Program Festival. “Biasanya Molimbu diadakan hanya di dalam desa atau antar warga di dalam desa. Tapi kami membuatnya menjadi antar desa-desa di Kabupaten Poso sebagai sebuah simbol persaudaraan. Makan bersama adalah simbol, kita bersaudara,” tandasnya. 
 
Bagi pengunjung yang ingin terlibat dalam molimbu, dihimbau untuk dapat membawa makanan masing-masing dari rumah. “Bagi mereka yang tidak sempat membawa makanan dari rumah, di sekitar lokasi festival ada warung desa yang dikelola ibu-ibu dari desa, bisa membeli makanan di warung secukupnya, dan bisa bergabung dalam kegiatan molimbu nantinya,” aku Cici. 
 
Sebelum molimbu digelar, festival dibuka dengan parade kekayaan hasil bumi dari desa dan kelurahan di kabupaten Poso. Setiap desa akan menghias hasil bumi khas dan asli desa, untuk dibawa keliling di jalanan Tentena, bersamaan dengan beragam unik pakaian peserta parade menggambarkan aktivitas pengolahan hasil bumi . 
 
Menurut Institut Mosintuwu, semangat dibalik kegiatan Parade hasil bumi, adalah ingin menyampaikan betapa bersyukurnya orang Poso atas beragam kekayaan sumber alam di desa. Rasa syukur itu harusnya diwujudkan dalam bekerja bersama di dalam desa untuk memastikan kekayaan sumber alam di desa bisa mensejahterakan desa, menjamin keadilan ekonomi dan sosial di desa. Bekerja bersama sudah dipastikan tidak lagi bicara tentang siapa beragama apa atau bersuku apa, tapi bicara tentang keahlian dan kemampuan bersama yang dimiliki.
 
Festival Hasil Bumi akan digelar pada tanggal 18 – 19 September 2017 di wilayah Yosi, Tentena, kecamatan Pamona Puselembah, Poso, Sulawesi Tengah, dengan melibatkan kurang lebih 50 desa dan kelurahan di kabupaten Poso. (Mitha)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close