NEWS

Insiden Bendera Merah Putih Terbalik, Bupati Banggai Minta Maaf

Sintuwuraya.com, Banggai: Bupati Banggai Herwin Yatim mengakui sebuah peristiwa yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 89, di ujung wilayah Sulawesi Tengah, yang biasa disebut bagian kepala burung, tepatnya di desa Kampangar, kecamatan Balantak Utara, kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Insiden itu adalah terbaliknya bendera merah putih, dengan posisi putih merah saat hendak dikibarkan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 89 tahun 2017. “Memang sesuatu yang tidak terduga terjadi pada peringatan hari sumpah pemuda. Hal itu tentu saja bagian dari ketidaksempurnaan kita sebagai manusia, dan menjadi pelajaran bersama bagi kita. Sebagai manusia tentu saja tidak pernah luput dari kesalahan. Kami mohon maaf. Sesungguhnya hal itu tidak terjadi ketika semua tanggap, tidak terlena dengan situasi dan mengantisipasi,” aku Bupati Herwin, kepada Sintuwuraya.com Minggu 29 Oktober 2017.

Ia juga mengakui kurang tanggapnya petugas dalam pelaksanaan upacara tersebut. “Sebenarnya menjadi sesuatu yang harus, yang wajib ketika pelaksanaan upacara itu, semuanya dicek sebaik-baiknya dan diperiksa kembali,” tuturnya.

Walaupun belum sempat berkibar di ujung tiang bendera, kesalahan itu tentu menjadi pelajaran penting bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah Banggai. “Apapun bentuknya, ini adalah sesuatu pelajaran bagi warga, bagi kita semua, bahwa ke depan tidak boleh terjadi hal seperti ini. Kami mohon maaf. Walaupun belum sempat dikibarkan, pada saat ditarik sudah keliatan seperti itu, tapi ini merupakan sesuatu kejadian yang menjadi pelajaran. Mudah-mudahan kedepan tidak terjadi lagi,” tandas Bupati Herwin. (Mitha)

Menurutnya, para petugas pengibar bendera dalam upacara tersebut, semuanya adalah putra-putri anak desa, dari kecamatan setempat. “Karena memang pelaksanaan dari kegiatan full adalah putra-putri anak desa, anak kecamatan, yang tentunya kita maafkan. Mereka lahir sebagai warga desa yang tentu saja punya kekurangan. Mungkin saja mereka grogi, dengan jumlah massa lebih tiga ribu yang hadir dalam upacara, sehingga menimbulkan hal yang tidak kita harapkan,” ujarnya. (Mitha)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close