NEWS

Belasan Tahun Berlalu, Mantan Kombatan Hadiri Tabligh Akbar di Poso

Sintuwuraya.com, Poso Kota: Mantan narapidana terorisme yang pernah menjadi kombatan di Poso, pada masa konflik belasan tahun silam, mendatangi Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dengan alasan mencari orang tuanya yang hilang. Pernyataannya tersebut disampaikan di depan ratusan umat muslim Poso, dalam acara Tabliqh Akbar, menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad 1439 Hijriyah.

“Sebenarnya, kedatangan saya ke Poso ingin mencari orang tua saya yang hilang. Pada awal konflik tahun 2000, mohon maaf, saya datang ke Poso dengan membawa bom dan membawa senjata. Saya melihat kota Poso pada waktu itu, menjadi kota mati,” ujar Ali Fauzi, mantan narapidana kasus terorisme.

Dalam acara tersebut, ratusan orang hadir untuk mengikuti acara Tabliqh Akbar yang digelar Satgas Tinombala bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Poso, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 Hijriyah. Acara tersebut berlangsung di Masjid Raya Poso, Jumat (24/11) sore.

Pedakwa kondang asal Jogjakarta, KH Ahmad Muwafiq atau yang dikenal sebagai Gus Muwafiq,  hadir sebagai pembicara dalam menyampaikan materi Tabliqh Akbar, yang dikemas dengan tema kita aktualisasikan suri tauladan Rasulullah SAW, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, demi terwujudnya Poso yang maju dan sejahtera.

Ali Fauzi didampingi Gus Yusuf dan Gus Muwafiq, saat diwawancarai usai pelaksanaan Tabliqh Akbar di Masjid Raya Poso. (foto: Mitha)

Menurutnya, mewujudkan Indonesia yang dapat menjadi jalan keluar, dan menyelesaikan segala permasalahan yang ada, menjadi cita-cita mereka saat ini.

“Saya sama mas Ali Fauzi ini, sekarang ya bercita-cita bagaimana Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, menjadi satu negara yang mampu menjadi jalan keluar dari seluruh persoalan rakyat. Amin. Baldatun Thayyibatun wa Rabbu Ghafur,” tutur Gus Muwafiq.

Selain Ali Fauzi, mantan teroris yang memiliki spesialiasi sebagai perakit bom, hadir pula Gus Yusuf dari Malang.  Wakil Bupati Poso, Samsuri, Kabinda Sulteng Brigjen Pol Aris Wahyu, Kapolres Poso AKBP Bogiek Sugiarto, Dandim 1307/Poso Letkol Inf Dody Triyo Hadi, Wadankolakops Tinombala Kolonel Inf Satyo Ariyanto, Ketua MUI Kabupaten Poso, Ustad H Arifin Tuamaka, Ketua Ponpes Amanah Putri Ustad H Adnan Arsal, Ketua FKUB Kabupaten Poso Yusuf Runa, masyarakat, anggota Satgas Tinombala serta pimpinan OPD Poso.

Ali Fauzi merupakan saudara kandung terpidana mati, Amrozi yang telah dieksekusi beberapa tahun lalu. Selain itu, dua saudara kandungnya Ali Gufron dan Ali Imron, juga sedang dalam tahanan menjalani hukuman seumur hidup. Mereka berempat dinyatakan terlibat dalam teror Bom Bali I. Usai menjalani masa hukumannya di dalam penjara, Ali Fauzi yang pernah bergabung dengan Alqaedah dan Jamaah Islamiah (JI) itu, menyatakan diri bertaubat, dan kembali setia kepada NKRI.

Ia bersama mantan kombatan lainnya, kini membentuk Yayasan Lingkar Perdamaian. Yayasan yang diakui konsern kepada dunia perdamaian. Mereka menyatakan diri berkawan dan bersinergi dengan aparat keamanan, dalam memberantas dinamika dan fenomena terorisme di Indonesia, serta mereduksi paham-paham radikal.

Ali Fauzi menyatakan bahwa tujuh sisa DPO yang masih bersembunyi di kawasan hutan Poso, bukan halangan besar bagi Kabupaten Poso untuk menjadi maju. Ia bahkan yakin Poso saat ini menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk ditempati.

“Saya bisa pastikan Poso sekarang sudah nyaman untuk ditempati dan ditinggali, dan oleh karenanya orang luar saya pikir tidak ada alasan untuk tidak masuk ke Poso. Mengenai DPO, saya pikir mereka adalah bagian dari warga kecil, dan saya pikir juga lambat laun mereka akan sadar dan turun gunung. Bukan hanya Poso, di tempat lain juga ada. Dan itu saya pikir bukan halangan yang besar. Yang terpenting, bagaimana masyarakat Poso dan aparat menciptakan prespektif yang bagus, menyakinkan pada masyarakat bahwa Poso sudah aman. Saya sendiri yang dulu pernah malang melintang menjadi kombatan di sini, ratus persen yakin Poso aman dan nyaman untuk ditempati,” tandasnya.

Saat konflik Poso sedang berlangsung, Ali Fauzi datang ke Poso dan bertemu orang tua yang dianggapnya sebagai ibu. Pada perempuan itulah Ali Fauzi menitipkan isterinya, ketika ia pergi berjihad. 17 tahun telah berlalu, ia kembali ke Poso dan langsung mencari orang tuanya itu.

“Saya merasa senang bahwa Poso hari ini berbeda dengan Poso beberapa tahun lalu ketika konflik. Dan saya tidak menduga begitu banyak orang-orang yang sudah nyaman di Poso ini. Mereka bisa berdagang, jual beli, dan aktifitas yang lainnya. Saya pikir kedepannya Poso, dengan dukungan TNI dan Polri dan masyarakat, akan tercipta sebuah wilayah yang kemudian orang luar percaya dan semakin tertarik dengan Poso,” akunya.

Ali Fauzi bahkan hapal betul dengan kondisi alam di Poso. “Disini juga saya tau dengan mata kepala sendiri ada banyak objek wisata di Poso yang bisa dimanfaatkan oleh Pemkab dan warga Poso. Ada Danau Poso, ada air terjun, megalitikum dan banyak lagi. Saya belum pernah menemukan. Saya sudah keliling Asia Tenggara bahkan dunia, air lautnya luar biasa dan itu bagian daripada sumber alam yang perlu digali oleh warga Poso,” imbuhnya. (Mitha)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close